Saturday, October 12, 2019

Penilaian Hutan


Makalah Penilaian Hutan                                                         Medan,      Oktober  2019

                         PENGOLAHAN DAN MANFAAT RESIN JERNANG

Dosen Pembimbing :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si



Oleh :

Yusni Sari Putri

71201006

MNH  5





                       





                                                                                                
















PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019








BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Pendahuluan
Rotan jernang (dragon blood) merupakan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan cukup tinggi (Permenhut, 2007). Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops sp.). Jernang menempel pada buah yang masih muda dan terus menipis dengan semakin tuanya buah rotan tersebut. Selama ini jernang diperoeh dari hasil berburu di hutan alam. Setelah mereka memperolehnya, jernang dijual kepada tengkulak untuk dikirim ke pengumpul. Selain itu potensi jernang terus menurun akibat kebakaran hutan dan perubahan fungsi lahan.
Jernang termasuk  kelompok resin keras yaitu padatan yang mengkilat, bening, atau kusam, rapuh, meleleh bila dipanaskan dan mudah terbakar dengan mengeluarkan asap dan bau yang khas (Sumadiwangsa, 2000). jernang ke dalam kelompok resin keras,  berwarna merah, berbentuk amorf, berat jenis (BJ) 1,18-1,20; bilangan asam rendah, bilangan ester sekitar 140,  titik cair sekitar 120°C, larut dalam alhohol, eter, minyak lemak dan minyak atsiri, sebagian larut dalam kloroform, etil asetat, petroleum spiritus dan karbon disulfida serta  tidak larut dalam air.
Dalam upaya menjamin produksi jernang perlu dilakukan pengenalan teknik budidaya dalam skala luas. Secara alami rotan ini dapat dijumpai di semenanjung Malaya, Sumatera, dan dataran rendah pada 300 m dpl. Tanaman ini tumbuh merambat dan membutuhkan tanaman kayu kayuan sebagai media tegakannya. Batang tanaman ini membentuk rumpun, diameter 12 mm, panjang ruas 18 – 35 cm, warna coklat kekuningan dan mengkilat, hati berwarna putih. Sedangkan daunnya adalah daun majemuk menyirip, anak daun berbentuk lanset seperti pita, bagian atas anak daun dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadapan-hadapan. Bunganya mempunyai malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang yang berduri. Buahnya berbentuk bulat, coklat merah, dan berbiji tunggal.
BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi Jernang
      Klasifikasi rotan jernang 
Kingdom               : Plantae (Tumbuhan) 
Subkingdom          : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) 
Super Divisi          : Spermatophyta (menghasilkan biji) 
Divisi                     : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) 
Kelas                     : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) 
Sub Kelas              : Arecidae 
Ordo                      : Arecaceae 
Famili                    : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus                    : Daemonorops 
Spesies                  : Daemonorops spp.
2.2 Pembibitan Jernang
a. Perkecambahan
            Buah yang digunakan sebagai benih adalah buah yang masak. Buah tersebut dikupas untuk membuang kulit dan daging buah serta dicuci. Biji yang digunakan sebagai benih adalah biji yang benar-benar masak dan sehat. Biji yang baik dicirikan dengan warna coklat tua dan mengkilap serta tidak ada serangan hama/penyakit.  Biji rotan jernang yang ditutupi cangkang yang keras sehingga sulit ditembus air. Untuk membantu proses perkecambahan mata biji dicongkel dan direndam dalam cairan atonik selama 2 hari. Kemudian biji diletakkan dalam wadah yang kedap yang telah diisi serbuk gergaji yang terdekomposisi dan steril. Benih mulai berkecambah pada hari ke-12 dengan daya kecambah 48,5%. 
b. Penyapihan
Penyapihan dilakukan ± 2,5 bulan setelah benih berkecambah, ditandai dengan tumbuhnya tunas (panjang ± 5 cm) dan akar (minimal 3 helai akar). Penyapihan dilakukan pada polybag kecil yang berisi media cocopeat/serbuk gergaji yang telah terdekomposisi.  Serbuk gergaji merupakan bahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan semai karena dapat menyokong pertumbuhan akar dan mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
c. Pembibitan
Daun rotan mulai mengembang setelah 1 bulan disapih dengan warna awal daun coklat kekuningan, kemudian berubah menjadi hijau setelah 1-2 minggu. Selanjutnya bibit dari polybag kecil dipindahkan ke polybag besar untuk memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit. Banyak jenis media yang dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan bibit sampai siap tanam. Dengan pertimbangan keterbatasan tanah /top soil dan kemudahan dalam pengangkutan maka media dapat menggunakan limbah organik seperti serbuk gergaji/cocopeat
2.3 Pengolahan Resin Jernang
Untuk mendapatkan resin jernang dilakukan ekstraksi buah rotan jernang.   
Teknik ekstraksi buah rotan jernang menurut Januminro (2000) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ekstraksi/pengolahan  basah dan  kering.  Ekstraksi basah menggunakan media air sedangkan ekstraksi kering tanpa menggunakan air.  Ekstraksi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Pada mulanya jernang digunakan untuk keperluan mereka sendiri, tetapi akhir-akhir ini banyak diperjualbelikan di pasaran dengan harga cukup mahal yaitu Rp. 700.000,- sampai Rp. 1.000.000,-/kg.
            Tahapan-tahapan ekstraksi sebagai berikut :
a.       Buah rotan jernang  dilepas dari tandan .
b.      Buah rotan jernang dimasukkan ke dalam keranjang rotan yang dinamakan “ambung”.
c.       Buah rotan jernang di dalam ambung ditumbuk secara perlahan-lahan.
d.      Jernang keluar melalui celah-celah ambung dan tertampung di plastik.
Teknik ekstraksi dilakukan dengan  menumbuk buah rotan  dengan hati-hati
guna menghindari kulit buah terkelupas dan buah rotan pecah/hancur. Teknik ekstraksi ini tergolong ekstraksi kering karena tanpa menggunakan media air atau pelarut. Jernang yang dihasilkan dengan cara ini sedikit tercampur dengan sisik kulit buah rotan. Serbuk jernang hasil ekstraksi dimasukkan dalam wadah plastik dan dalam waktu ±30 menit akan menggumpal/mengeras.  Untuk mempercepat penggumpalan, serbuk jernang dalam plastik biasanya dikukus selama ±5 menit.
2.4 Manfaat Resin Jernang
      Jernang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna (untuk vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat), bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta pembeku darah karena luka. Selama ini jernang diekspor untuk industi-industri di negara China, Singapura, dan Hongkong. China membutuhkan 400 ton jernang tiap tahunnya dan Indonesia baru mampu memasok sekitar 27 ton pertahun (Pasaribu, 2005).
Pemanfaatan jernang secara tradisional antara lain untuk obat disentri dan obat luka (Rustiami, 2005; Purwanto, Polosokan, Susiarti, & Wahyu, 2005). Khasiat jernang sebagai obat luka dimungkinkan karena ekstrak etil asetat jernang memiliki sifat prokoagulasi darah secara in vitro terhadap kelinci
(Waluyo & Pasaribu, 2013). Ekstrak suatu bahan sebagai obat penyembuh luka akan lebih efektif pemanfaatannya bila bahan tersebut juga mempunyai sifat antimikroba (antijamur dan antibakteri), sehingga dalam
penerapannya tidak diperlukan lagi bahan tambahan antimikroba
(Umachigi et al., 2007; Kwakye, Kwapong, & Adu, 2009).
Salah satu teknologi nano yang berkembang saat ini adalah penggunaan serat nano (nano-fibers) untuk berbagai produk. Serat nano mempunyai sifat unik dan berpotensi untuk diaplikasikan di bidang biologi, kimia, elektronik, teknik, biomedis, dan pelindung berbagai produk. Salah satu aplikasi serat nano dalam bidang medis adalah untuk meningkatkan efisiensi pemakaian obat. Salah satu aplikasi serat nano dalam bidang biomedis adalah untuk menyembuhkan luka dengan memasukkan bahan antibiotik pada matriks serat nano
(Soscia, Raof, Xie, Cady, & Gadre, 2010). Peran antibiotik pada serat nano untuk menyembuhkan luka dapat digantikan dengan bahan antimikroba seperti jernang.
Saat ini, penggunaan jernang dengan matriks serat nano belum dipelajari secara mendalam.
Ekstrak etil asetat dan metanol jernang rambai dan kalamuai resisten terhadap Candida albicans dan Aspergilus flavus. Ekstrak etil asetat jernang rambai dan kalamuai berpotensi sebagai obat penyembuh luka (wound healing).
BAB II
KESIMPULAN
1.      Rotan jernang merupakan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan cukup tinggi. Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops sp.).
2.      Pembibitan jernang dimulai dengan dengan berkecambahnya benih jernang, kemudian dilakukan penyapihan terhadap benih jernang yang sudah bertunas, terus dilakukan pembibitan jernang dengan memindahkan dari poly bag kecil ke poly bag besar supaya bertumbuh dengan baik
3.      Pengolahan jernang dilakukan dengan teknik ekstraksi. Ekstrasi buah rotan jernang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ekstraksi/pengolahan  basah dan  kering.  Ekstraksi basah menggunakan media air sedangkan ekstraksi kering tanpa menggunakan air. 
4.      Jernang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna (untuk vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat), bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta pembeku darah karena luka.

DAFTAR PUSTAKA
Januminro, C.F.M., 2000. Rotan Indonesia: potensi, budidaya, pemungutan, pengolahan, standar mutu, dan prospek pengusahaan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Pasaribu, H., 2005. China Butuh 400 ton jernang rotan dari Indonesia. www.kapanlagi.com. Diakses tanggal 1 Desember 2010.

Permenhut. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No.: P.35/Menhhut-II/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu. Jakarta.

Rustiami, H. (2005). Daemonorops draco (Willd.) Blume. Bogor: Prosea Newsletter No. 35.

Soscia, D.A.; Raof, N.A..; Xie, Y.; Cady, N.C. & Gadre, A.P. (2010). Antibiotic-Loaded PLGA Nanofibers for Wound Healing Applications. Advance Biomaterials 12(4),83-88.

Sumadiwangsa, S.  2000.  Usulan kerja peneliti (UKP).  Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor. Tidak diterbitkan.

Umachigi, S.P.; G.S. Kumar; K.N. Jayaveera; D.V. Kishorekumar; C.K. Ashokkumar & R. Dhanapal. (2007). Antimicrobial, Wound Healing and Antioxidant Activities of Anthocephalus cadamba. Afr.J.raditional. CAM 4(4),481-487.

Waluyo, T.K. & G. Pasaribu. (2013). Aktifitas Antioksidan Dan Antikoagulasi Resin. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 31(4),306-315.

29 comments:

  1. Replies
    1. Bisa kak. Masa kakak lupa yang ku kasih di KHDTK itu

      Delete
  2. Apakah sudah ada bahan pewarna instan dari jernang?

    ReplyDelete
  3. Rotan jernang biasanya ditemukan dimana ya kak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi penyebaran jernang itu ada dijawa dan sumatera kak

      Delete
  4. Info yg bagus, ditunggu manfaat jenis hhbk lainnya

    ReplyDelete

Penilaian Hutan

Makalah Penilaian Hutan                                                          Medan,         Oktober   2019                         ...