Saturday, October 12, 2019

Penilaian Hutan


Makalah Penilaian Hutan                                                         Medan,      Oktober  2019

                         PENGOLAHAN DAN MANFAAT RESIN JERNANG

Dosen Pembimbing :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si



Oleh :

Yusni Sari Putri

71201006

MNH  5





                       





                                                                                                
















PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019








BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Pendahuluan
Rotan jernang (dragon blood) merupakan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan cukup tinggi (Permenhut, 2007). Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops sp.). Jernang menempel pada buah yang masih muda dan terus menipis dengan semakin tuanya buah rotan tersebut. Selama ini jernang diperoeh dari hasil berburu di hutan alam. Setelah mereka memperolehnya, jernang dijual kepada tengkulak untuk dikirim ke pengumpul. Selain itu potensi jernang terus menurun akibat kebakaran hutan dan perubahan fungsi lahan.
Jernang termasuk  kelompok resin keras yaitu padatan yang mengkilat, bening, atau kusam, rapuh, meleleh bila dipanaskan dan mudah terbakar dengan mengeluarkan asap dan bau yang khas (Sumadiwangsa, 2000). jernang ke dalam kelompok resin keras,  berwarna merah, berbentuk amorf, berat jenis (BJ) 1,18-1,20; bilangan asam rendah, bilangan ester sekitar 140,  titik cair sekitar 120°C, larut dalam alhohol, eter, minyak lemak dan minyak atsiri, sebagian larut dalam kloroform, etil asetat, petroleum spiritus dan karbon disulfida serta  tidak larut dalam air.
Dalam upaya menjamin produksi jernang perlu dilakukan pengenalan teknik budidaya dalam skala luas. Secara alami rotan ini dapat dijumpai di semenanjung Malaya, Sumatera, dan dataran rendah pada 300 m dpl. Tanaman ini tumbuh merambat dan membutuhkan tanaman kayu kayuan sebagai media tegakannya. Batang tanaman ini membentuk rumpun, diameter 12 mm, panjang ruas 18 – 35 cm, warna coklat kekuningan dan mengkilat, hati berwarna putih. Sedangkan daunnya adalah daun majemuk menyirip, anak daun berbentuk lanset seperti pita, bagian atas anak daun dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadapan-hadapan. Bunganya mempunyai malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang yang berduri. Buahnya berbentuk bulat, coklat merah, dan berbiji tunggal.
BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi Jernang
      Klasifikasi rotan jernang 
Kingdom               : Plantae (Tumbuhan) 
Subkingdom          : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) 
Super Divisi          : Spermatophyta (menghasilkan biji) 
Divisi                     : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) 
Kelas                     : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) 
Sub Kelas              : Arecidae 
Ordo                      : Arecaceae 
Famili                    : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus                    : Daemonorops 
Spesies                  : Daemonorops spp.
2.2 Pembibitan Jernang
a. Perkecambahan
            Buah yang digunakan sebagai benih adalah buah yang masak. Buah tersebut dikupas untuk membuang kulit dan daging buah serta dicuci. Biji yang digunakan sebagai benih adalah biji yang benar-benar masak dan sehat. Biji yang baik dicirikan dengan warna coklat tua dan mengkilap serta tidak ada serangan hama/penyakit.  Biji rotan jernang yang ditutupi cangkang yang keras sehingga sulit ditembus air. Untuk membantu proses perkecambahan mata biji dicongkel dan direndam dalam cairan atonik selama 2 hari. Kemudian biji diletakkan dalam wadah yang kedap yang telah diisi serbuk gergaji yang terdekomposisi dan steril. Benih mulai berkecambah pada hari ke-12 dengan daya kecambah 48,5%. 
b. Penyapihan
Penyapihan dilakukan ± 2,5 bulan setelah benih berkecambah, ditandai dengan tumbuhnya tunas (panjang ± 5 cm) dan akar (minimal 3 helai akar). Penyapihan dilakukan pada polybag kecil yang berisi media cocopeat/serbuk gergaji yang telah terdekomposisi.  Serbuk gergaji merupakan bahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan semai karena dapat menyokong pertumbuhan akar dan mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
c. Pembibitan
Daun rotan mulai mengembang setelah 1 bulan disapih dengan warna awal daun coklat kekuningan, kemudian berubah menjadi hijau setelah 1-2 minggu. Selanjutnya bibit dari polybag kecil dipindahkan ke polybag besar untuk memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit. Banyak jenis media yang dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan bibit sampai siap tanam. Dengan pertimbangan keterbatasan tanah /top soil dan kemudahan dalam pengangkutan maka media dapat menggunakan limbah organik seperti serbuk gergaji/cocopeat
2.3 Pengolahan Resin Jernang
Untuk mendapatkan resin jernang dilakukan ekstraksi buah rotan jernang.   
Teknik ekstraksi buah rotan jernang menurut Januminro (2000) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ekstraksi/pengolahan  basah dan  kering.  Ekstraksi basah menggunakan media air sedangkan ekstraksi kering tanpa menggunakan air.  Ekstraksi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Pada mulanya jernang digunakan untuk keperluan mereka sendiri, tetapi akhir-akhir ini banyak diperjualbelikan di pasaran dengan harga cukup mahal yaitu Rp. 700.000,- sampai Rp. 1.000.000,-/kg.
            Tahapan-tahapan ekstraksi sebagai berikut :
a.       Buah rotan jernang  dilepas dari tandan .
b.      Buah rotan jernang dimasukkan ke dalam keranjang rotan yang dinamakan “ambung”.
c.       Buah rotan jernang di dalam ambung ditumbuk secara perlahan-lahan.
d.      Jernang keluar melalui celah-celah ambung dan tertampung di plastik.
Teknik ekstraksi dilakukan dengan  menumbuk buah rotan  dengan hati-hati
guna menghindari kulit buah terkelupas dan buah rotan pecah/hancur. Teknik ekstraksi ini tergolong ekstraksi kering karena tanpa menggunakan media air atau pelarut. Jernang yang dihasilkan dengan cara ini sedikit tercampur dengan sisik kulit buah rotan. Serbuk jernang hasil ekstraksi dimasukkan dalam wadah plastik dan dalam waktu ±30 menit akan menggumpal/mengeras.  Untuk mempercepat penggumpalan, serbuk jernang dalam plastik biasanya dikukus selama ±5 menit.
2.4 Manfaat Resin Jernang
      Jernang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna (untuk vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat), bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta pembeku darah karena luka. Selama ini jernang diekspor untuk industi-industri di negara China, Singapura, dan Hongkong. China membutuhkan 400 ton jernang tiap tahunnya dan Indonesia baru mampu memasok sekitar 27 ton pertahun (Pasaribu, 2005).
Pemanfaatan jernang secara tradisional antara lain untuk obat disentri dan obat luka (Rustiami, 2005; Purwanto, Polosokan, Susiarti, & Wahyu, 2005). Khasiat jernang sebagai obat luka dimungkinkan karena ekstrak etil asetat jernang memiliki sifat prokoagulasi darah secara in vitro terhadap kelinci
(Waluyo & Pasaribu, 2013). Ekstrak suatu bahan sebagai obat penyembuh luka akan lebih efektif pemanfaatannya bila bahan tersebut juga mempunyai sifat antimikroba (antijamur dan antibakteri), sehingga dalam
penerapannya tidak diperlukan lagi bahan tambahan antimikroba
(Umachigi et al., 2007; Kwakye, Kwapong, & Adu, 2009).
Salah satu teknologi nano yang berkembang saat ini adalah penggunaan serat nano (nano-fibers) untuk berbagai produk. Serat nano mempunyai sifat unik dan berpotensi untuk diaplikasikan di bidang biologi, kimia, elektronik, teknik, biomedis, dan pelindung berbagai produk. Salah satu aplikasi serat nano dalam bidang medis adalah untuk meningkatkan efisiensi pemakaian obat. Salah satu aplikasi serat nano dalam bidang biomedis adalah untuk menyembuhkan luka dengan memasukkan bahan antibiotik pada matriks serat nano
(Soscia, Raof, Xie, Cady, & Gadre, 2010). Peran antibiotik pada serat nano untuk menyembuhkan luka dapat digantikan dengan bahan antimikroba seperti jernang.
Saat ini, penggunaan jernang dengan matriks serat nano belum dipelajari secara mendalam.
Ekstrak etil asetat dan metanol jernang rambai dan kalamuai resisten terhadap Candida albicans dan Aspergilus flavus. Ekstrak etil asetat jernang rambai dan kalamuai berpotensi sebagai obat penyembuh luka (wound healing).
BAB II
KESIMPULAN
1.      Rotan jernang merupakan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan cukup tinggi. Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops sp.).
2.      Pembibitan jernang dimulai dengan dengan berkecambahnya benih jernang, kemudian dilakukan penyapihan terhadap benih jernang yang sudah bertunas, terus dilakukan pembibitan jernang dengan memindahkan dari poly bag kecil ke poly bag besar supaya bertumbuh dengan baik
3.      Pengolahan jernang dilakukan dengan teknik ekstraksi. Ekstrasi buah rotan jernang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ekstraksi/pengolahan  basah dan  kering.  Ekstraksi basah menggunakan media air sedangkan ekstraksi kering tanpa menggunakan air. 
4.      Jernang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna (untuk vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat), bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta pembeku darah karena luka.

DAFTAR PUSTAKA
Januminro, C.F.M., 2000. Rotan Indonesia: potensi, budidaya, pemungutan, pengolahan, standar mutu, dan prospek pengusahaan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Pasaribu, H., 2005. China Butuh 400 ton jernang rotan dari Indonesia. www.kapanlagi.com. Diakses tanggal 1 Desember 2010.

Permenhut. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No.: P.35/Menhhut-II/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu. Jakarta.

Rustiami, H. (2005). Daemonorops draco (Willd.) Blume. Bogor: Prosea Newsletter No. 35.

Soscia, D.A.; Raof, N.A..; Xie, Y.; Cady, N.C. & Gadre, A.P. (2010). Antibiotic-Loaded PLGA Nanofibers for Wound Healing Applications. Advance Biomaterials 12(4),83-88.

Sumadiwangsa, S.  2000.  Usulan kerja peneliti (UKP).  Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor. Tidak diterbitkan.

Umachigi, S.P.; G.S. Kumar; K.N. Jayaveera; D.V. Kishorekumar; C.K. Ashokkumar & R. Dhanapal. (2007). Antimicrobial, Wound Healing and Antioxidant Activities of Anthocephalus cadamba. Afr.J.raditional. CAM 4(4),481-487.

Waluyo, T.K. & G. Pasaribu. (2013). Aktifitas Antioksidan Dan Antikoagulasi Resin. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 31(4),306-315.

Wednesday, October 2, 2019

SOSIOLOGI HUTAN


Makalah Sosiologi Hutan                                              Medan,  September 2019
                                      KOMUNITAS ARMY SE-INDONESIA
Dosen Pembimbing :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Oleh :
Yusni Sari Putri
71201006
MNH  5


                       



                                                                                                


 

















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dinamika kehidupan masyarakat mengalami perkembangan yang sangat pesat. Akulturasi budaya dengan  sentuhan teknologi informasi merupakan fenomena pendorong perubahan tersebut. Kebebasan personal dalam menyampaikan ide,  kritik, saran dan bahkan “hujatan” sering dijumpai setiap jam dan hari melalui berbagai varian media yang digunakan.
Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etikan dan norma yang ada. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dengan berbagai kultur suku, ras dan agama yang beraneka ragam memiliki banyak sekali potensi perubahan sosial. Dari berbagai kalangan dan usia hampir semua masyarakat Indonesia memiliki dan menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana guna memperoleh dan menyampaikan informasi ke publik.
Kemajuan teknologi saat ini  semakin pesat sehingga mempermudah budaya asing untuk masuk ke Indonesia seperti masuknya budaya korea. Tidak jarang para remaja menghabiskan waktunya untuk menoonton konser K-pop bahkan sampai teriak-teriak dan tidak bisa mengendalikan emmosinya. Kelompok penggemar tersebut terbagi berdasarkan fans club atau biasa disebut fandom setiap masing-masing Idol. Bagi orang-orang yang menyukai K-Pop, fandom
K-Pop adalah sesuatu yang besar. Mereka memiliki nama masing-masing, warna tertentu untuk menunjukkan identitas mereka, dan bahkan diakui secara resmi oleh label atau manajemen yang menaungi idola kesayangan mereka
Dalam sebuah fandom terdapat berbagai komunitas-komunitas kecil di  dalamnya. Komuitas ini ada yang dibentuk berdasarkan daerah anggotanya maupun memang komunitas yang dibangun untuk mempersatukan berbagai fans dari berbagai daerah. Komunitas yang dibentuk berdasarkan daerah misalnya ARMY Surabaya, ARMY Malang, dll. Sedangkan komunitas yang yang menyatukan fans dari berbagai daerah seperti BTS ARMY INDONESIA.







BAB II
ISI
2.1  Sejarah Terbentuknya ARMY
            BTS (Bangtan Sonyeondan) debut sebagai Idol dikenal juga dengan sebutan Bangtan boys. BTS dibentuk oleh BigHit Entertaiment pada tahun 2010. Grup ini resmi debut pada tanggal 13 juni 2013 dengan lagu utama pertama mereka yang bejudul “No More Dream” serta album pertama mereka yaitu
“2 Cool 4 Skool”. Pada tahun 2017 BTS mengganti nama iternasional mereka dari yang semula bernama Bangtan Boys menjadi Beyond The Scene. Namun, dikorea mereka tetaplah Bangtan Sonyeondan. Yang berubah itu hanyalah nama internasional mereka, logo BTS pun berubah. BTS  beranggotakan 7 pria tampan asal Korea Selatan. Pri-pria tersebut sudah banyak melewati masa sulit saat trainee dan saat sebelum masa keemasan BTS.
            Selain logo, nama fandom BTS juga identik dengan kemiliteran, yaitu ARMY. Saat Big Hit merilis nama fandom pada tanggal 9 Juli 2013, banyak yang mengira bahwa ARMY artijya “Armor Military” Karena cocok dengan nama BTS. Namun ternyata ARMY adalah singkatan dari Adorable Representative MC for Youth. Didunia hiphop, MC(emcee) adalah istilah yang dipakai memanggil rapper, dan nama ARMY yang berarti tentara dalam bahasa inggris sangat lekat hubungannya dengan konteks “bulletproof”, tetapi  jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, Adorable Representative MC for Youth memiliki makna yang sangat dalam, sama sperti makna lain dari BTS. ARMY bias memiliki arti bahwa fans BTS adalah representative atau perwakilan  dari generasi muda yang menyenangkan, bersemangat dan penuh dengan passion.

2.2 Struktur Sosial
 Struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya. Suatu kumpulan invidu yang mana didalamnya teerdapat pola perilaku yang mampu menyambungkan hubungan baik pada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Adapun struktur sosial yang terdapat di komunitas ini ada leader/creator, co-leader, dan curator.
Leader/creator merupakan pemimpin tertinggi di didalam aplikasi tersebut keberadaan leader ini cukup penting dalam menggerakkan para anggota untuk mulai menulis. Co-leader bertugas sebagai memberikan ide-ide untuk bahan diskusi anggota komunitas ini. Curator tugasnya disini untuk mendesain ide-ide yang sudah diterima untuk dikerjakan terus dibahas bersama layak tidaknya desain tersebut dipublish. Pada aplikasi leader mengajak para anggotanya untuk ikut menulis artikel. Tulisan yang sudah ditulis oleh para anggota nantinya akan diperiksa lagi lebih lanjut oleh leader untuk bisa dipost diaplikasi BAIA.

2.3 Nilai Sosial
          Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Fanatisme penggemar BTS, Army, kepada idolanya, ternyata tidak dibarengi dengan sikap sportif. Hal itu diketahui ketika ada salah satu penggemar BTS keturunan Afrika-Amerika yang mencoba untuk bergabung dengan grup penggemar BTS di media sosial. Diberitakan Hollywood Life, salah satu penggemar mereka yang merupakan keturunan Afro-Amerika, Jenna Woid, mengaku menjadi korban rasisme dari sebagian penggemar BTS di medsos. Berharap ingin menambah sahabat dan komunikasi dengan sesama penggemar BTS, dia justru mendapat perlakuan tidak baik.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di beberapa grup chat dan acara-acara ARMY yang diadakan oleh fanbase BTS di Bandung, kebanyakan fans adalah remaja putri atau dewasa awal yang berusia rata-rata 18 sampai 24 tahun. Mereka banyak membicarakan segala kegiatan yang dilakukan oleh BTS kepada teman-temannya. Hanya yang menjadi menarik oleh peneliti, ada salah seorang ibu berinisial I berusia 40 tahun yang juga menjadi seorang ARMY disaat kebanyakan fansnya adalah dari kalangan yang lebih muda darinya. I banyak berteman dengan anak-anak yang masih muda dan sering dipanggil Mama ARMY. Tidak hanya itu, I juga membuat kedua anaknya menjadi fans dari BTS juga.




BAB III
KESIMPULAN
1.      BTS (Bangtan Sonyeondan) debut sebagai Idol dikenal juga dengan sebutan Bangtan boys. BTS dibentuk oleh BigHit Entertaiment pada tahun 2010. Grup ini resmi debut pada tanggal 13 juni 2013 dengan lagu utama pertama mereka yang bejudul “No More Dream” serta album pertama mereka yaitu “2 Cool 4 Skool”.
2.      Nama fandom BTS juga identik dengan kemiliteran, yaitu ARMY. Saat Big Hit merilis nama fandom pada tanggal 9 Juli 2013, banyak yang mengira bahwa ARMY artijya “Armor Military” Karena cocok dengan nama BTS. Namun ternyata ARMY adalah singkatan dari Adorable Representative MC for Youth.
3.      Struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya. Suatu kumpulan invidu yang mana didalamnya teerdapat pola perilaku yang mampu menyambungkan hubungan baik pada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Adapun struktur sosial yang terdapat di komunitas ini ada leader/creator, co-leader, dan curator.Leader/creator merupakan pemimpin tertinggi di didalam aplikasi tersebut keberadaan leader ini cukup penting dalam menggerakkan para anggota untuk mulai menulis.





DAFTAR PUSTAKA
Barker, C. 2011. Cultural Studies: Teori dan Praktik.perbedaa Bantul: KREASI WACANA.


Jung, S. (2011). Korean masculinities and Transcultural Consumption: Yonsama, Rain, Oldboy, K-Pop Idols. Hong Kong: Hong Kong University Press.

Park, I. J. K. (2007). Enculturation of Korean-American adolescents within familial and cultural contexts: The mediating role of ethnic identity. Family Relations. Vol. 56, Iss. 4; pg. 403-413.
Abidin, Yunus. (2010). Strategi Membaca Teori dan Pembelajaranya. Bandung:

Risqi Press. Bungin, M. Burhan. (2009). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursi Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.

Herdiansyah, Haris. (2010). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Salemba Humanika




Thursday, April 11, 2019

EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN


Tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan                              Medan, April 2019



IDENTIFIKASI MANFAAT EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN

Dosen Penanggungjawab

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh :

Yusni Sari Putri

171201006

HUT 4A





































PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2019



BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Hutan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, mulai dari pengatur tata air, paru-paru dunia, sampai pada kegiatan industri. Perkembangannya hutan telah dimanfaatkan untuk berbagai penggunaan, antara lain pemanfaatan hutan dalam bidang Hak Pengusahaan Hutan, Hak Pemungutan Hasil Hutan dan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri. Sebagai salah satu sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, manfaat hutan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu manfaat tangible (langsung/nyata) dan manfaat intangible (tidak langsung/tidak nyata). Manfaat tangible atau manfaat langsung hutan antara lain : kayu, hasil hutan ikutan, dan lain-lain. Sedangkan manfaat intangible atau manfaat tidak langsung hutan antara lain pengaturan tata air, rekreasi, pendidikan, kenyamanan lingkungan,
dan lain-lain.

Indonesia merupakan negara kedua setelah Brazil yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan yang dilalui oleh garis khatulistiwa, sehingga memiliki iklim tropis. Secara umum manfaat hutan dapat berasal dari penggunaan sumberdaya hutan secara langsung dimana manfaatnya dapat dinilai dengan harga pasar, seperti kayu, rotan dan lain sebagainya.

Demikian pula manfaat lainnya seperti penggunaan untuk rekreasi/pariwisata, dapat dinilai, dan besaran nilainya sangat bergantung pada cara penggunaannya. Namun manfaat tidak langsung dari sumber daya hutan seperti mendukung aktifitas ekonomi, pertanian, perikanan, peternakan, transportasi, perhotelan, pengendali tata air, pengaturan iklim, mencegah erosi dan lain-lain sulit dinilai berdasarkan nilai moneter. Manfaat yang besar dari hutan tersebut dianggap sebagai manfaat sosial dan sulit dinilai berdasarkan harga pasar walaupun manfaat ini telah banyak diakui masyarakat. Dengan demikian maka keberadaan hutan lindung dan konservasi dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan. Yang akan dibahas dalam kesempatan kali ini adalah manfaat hutan yang terlihat oleh mata dan menghasilkan manfaat yang bersifat ekonomis melalui sumber daya hutan yang ada.

Dalam melakukan pilihan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan itu selalu dipertimbangkan adanya pemuasan kebutuhan dengan tujuan untuk memaksimalkan kepuasan atau untuk memaksimalkan produksi, baik untuk perorangan ataupun untuk masyarakat. Oleh karena itu, dengan adanya sumber daya alam yang terbatas, dan kebutuhan manusia yang tidak ada batasnya, maka manusia secara sendiri atau masyarakat secara bersama-sama harus berusaha mencapai kepuasan pribadi atau manfaat sosial yang optimal.

1.2.Rumusan Masalah

1.      Apa itu Ekonomi Sumber Daya Hutan?

2.      Apa saja jenis-jenis Sumber Daya Hutan?

3.      Bagaimana manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan bagi lingkungan?

4.      Bagaimana cara kita memanfaatkan Sumber Daya Hutan?

5.      Bagaimana cara melestarikan Sumber Daya Hutan?

1.3.Tujuan

1.      Untuk mengetahui Ekonomi Sumber Daya Hutan.

2.      Untuk mengetahui jenis-jenis Sumber Daya Hutan.

3.      Untu mengetahui manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan bagi lingkungan.

4.      Untuk mengetahui cara memanfaatkan Sumber Daya Hutan.

5.      Untuk mengetahui cara melestarikan Sumber Daya Hutan.





BAB II

ISI

2.1. Ekonomi Sumber Daya Hutan dan Ekonomi

            Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang. Pada dasarnya ekonomi summberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umummnya, karena sumberdaya hutan mengandung sifat - sifat khas sehingga dipandang dapat dipahami kalau dipelajari sebagai subjek pengetahuan tersendiri.

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Dengan demikian Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang. Pada dasarnya ekonomi summberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umummnya, karena sumberdaya hutan mengandung sifat- sifat khas sehingga dipandang dapat dipahami kalau dipelajari sebagai subjek pengetahuan tersendiri.

2.2.Jenis-jenis Sumber Daya Hutan

1. Kayu

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hutan ditumbuhi oleh pepohonan berkayu. Potensi hutan berupa kayu ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, bahan baku kertas, bahan baku industri meubel dan lain sebagainya Setidaknya terdapat 4000 jenis kayu yang keberadaannya tersebar di nusantara. Lebih dari 250 jenis kayu tersebut merupakan kayu dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Berikut contoh diantara jenis – jenis kayu tersebut adalah :

a.       Kayu Jati.

b.      Kayu Meranti.

c.       Kayu Cedana.

d.      Kayu Akasia.

Itu merupakan sebagian kecil contoh jenis-jenis kayu yang ada di indonesia yang dapat dijadikan sebagai kayu pertukangan.

2.    Non kayu

Meskipun potensi hutan dominan dengan kayu, tetapi ada juga potensi lain dari hutan yang tak kalah bermanfaat. Potensi hutan ini juga termasuk dalam sumber daya alam biotik yang dapat terus diperbaharui. Beberapa hasil hutan non kayu adalah madu, buah- buahan, jamur, damar, rotan, sagu, sutera dan lain sebagainya. Berikut adalah contoh potensi hutan non kayu.

a.       Buah-buahan.

b.      Madu.

c.       Karet.

d.      Rempah-rempah.

e.       Rotan.

f.       Sagu.

2.3. Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan bagi Lingkungan

Nilai ekonomi yang dihasilkan dari masing-masing tipe pemanfaatan sumber daya alam (hasil hutan kayu, non kayu, tambang, perikanan, pertanian, pariwisata, dll) serta nilai ekonomi dari jasa lingkungan yang disediakan oleh kawasan hutan , hendaknya tidak dilihat sebagai nilai-nilai yang terpisah satu sama lain, karena setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya alam (kegiatan ekonomi lain) tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan saling memberikan dampak satu sama lain.

Manfaat atau fungsi hutan bagi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung sangat banyak dan beragam. Hutan tidak saja sebagai sumber kayu dan hasil hutan lainnya yang memberikan manfaat ekonomi. Secara tidak langsung hutan akan memberikan pengaruh pada kehidupan di hilirnya.
Hutan juga mempunyai fungsi perlindungan terhadap tata air. Dengan adanya seresah di lantai hutan dan struktur tanah gembur, air hujan terserap seresah dan masuk ke dalam tanah. Karena itu dalam musim hujan debit maksimum air dapat dikurangi, dengan demikian bahaya banjir berkurang.

2.4. Cara memanfaatkan Sumber Daya Hutan

 Di bumi ini, penyebaran sumber daya alam tidak merata letaknya. Ada bagian bumi yang sangat kaya akan mineral, ada pula yang tidak. Oleh karena itu agar pemanfaatannta dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi harus disertai dengan tindakan perlindungan. Berikut beberapan pemanfaatan sumber daya alam ;

1.      Pemanfaatan sumber daya alam nabati, antara lain :

a.       Sebagai sumber bahan pangan

b.       Sebagai sumber sandang, seperti : kapas

c.       Sebagai tanaman hias.

2.      Pemanfaatan sumber daya alam hewani, antara lain :

a.       Sebagai sumber bahan pangandan sumber sandang. 

b.      Sebagai benda-benda hasil seni dan kerajinan tangan manusia.

c.       Meningkatkan nilai kehidupan dan nilai budaya manusia.

3.      Pemanfaatan sumber daya alam barang tambang antara lain :

a.       Minyak bumi, digunakan untuk bahan bakar kendaraan, tenaga penggerak mesin pabrik, penerangan tanah.

b.      Gas alam, digunakan untuk bahan bakar rumah tangga dan industri.

c.       Batu bara, digunakan untuk bahan bakar pemberi tenaga dan bahan mentah untuk cat, obat-obatan, wangi-wangian, bahan peledak dan lain sebagainya.

2.5. Untuk Mengetahui Cara Melesatrikan Sumber Daya Hutan

Sumber daya alam tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi dalam pemanfaatan dan pengelolaannya harus dilakukan sesuai peraturan-peraturan yang mengikat semua pihak agar dapat bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang. Maka hal-hal berikut sangat perlu dilaksanakan, antara lain :

a.       Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, tetapi sumber daya alam harus diusahakan agar produktifitasnya tetap berkelanjutan.

b.      Eksploitasinya harus dibawah batas daya regenerasi atau asimilasi  sumber daya alam.

c.       Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfataan sumber daya alam yang ada dapat lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan pengertian sikap serasi dengan lingkungannya.



BAB III

KESIMPULAN

1.      Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang.

2.      Jenis-jenis Sumber Daya Hutan itu ada kayu contohnya kayu jati, kayu meranti, kayu cedanana, dan kayu akasia. Adapula non kayu contohnya buah-buahan, madu, karet, rotan, sagu, dan rempah-rempah.

3.      Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan bagi lingkungan ada secara langsung contohnya sebagai penahan erosi tahan, sebagai penyimpan air dll. Secara tidak langsung itu contohnya bisa sebagai ekowisata bagi masyarakat.

4.      Cara memanfaatkan Sumber Daya Hutan itu bisa dengan pemanfaatan sumber daya alam nabati, pemanfaatan sumber daya alam hewani, dan pemanfaatan sumber daya alam barangg tambang.

5.      Cara melestarikan Sumber Daya Hutan itu adalah Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, tetapi sumber daya alam harus diusahakan agar produktifitasnya tetap berkelanjutan.

 



DAFTAR PUSTAKA

Alam, S., Supratman, Alif KS, M. 2009. Ekonomi Sumberdaya Hutan. Laboratorium Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin.

Rahmawaty. 2004. Hutan: Fungsi Dan Peranannya Bagi Masyarakat. Fakultas Pertanian Program Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara. ©2004 Digitized by USU digital library.

Supardi, imam.2003. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Bandung: Alumni

Sibarani, A.  2001. Manfaat Sumber Daya Hutan bagi Lingkungan. :Yogyakarta.Kanisius.




Penilaian Hutan

Makalah Penilaian Hutan                                                          Medan,         Oktober   2019                         ...