Makalah Penilaian Hutan Medan,
Oktober 2019
PENGOLAHAN
DAN MANFAAT RESIN JERNANG
Dosen Pembimbing :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh :
Yusni Sari Putri
71201006
MNH 5
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Rotan jernang (dragon blood) merupakan komoditi Hasil
Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan
cukup tinggi (Permenhut, 2007). Jernang adalah resin yang menempel dan menutupi
bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops
sp.). Jernang menempel pada buah yang masih muda dan terus menipis dengan
semakin tuanya buah rotan tersebut. Selama ini jernang diperoeh dari hasil
berburu di hutan alam. Setelah mereka memperolehnya, jernang dijual kepada tengkulak
untuk dikirim ke pengumpul. Selain itu potensi jernang terus menurun akibat
kebakaran hutan dan perubahan fungsi lahan.
Jernang termasuk kelompok resin keras yaitu padatan yang
mengkilat, bening, atau kusam, rapuh, meleleh bila dipanaskan dan mudah
terbakar dengan mengeluarkan asap dan bau yang khas (Sumadiwangsa, 2000). jernang
ke dalam kelompok resin keras, berwarna merah,
berbentuk amorf, berat jenis (BJ) 1,18-1,20; bilangan asam rendah, bilangan
ester sekitar 140, titik cair sekitar
120°C, larut dalam alhohol, eter, minyak lemak dan minyak atsiri, sebagian
larut dalam kloroform, etil asetat, petroleum spiritus dan karbon disulfida serta tidak larut dalam air.
Dalam upaya menjamin
produksi jernang perlu dilakukan pengenalan teknik budidaya dalam skala luas.
Secara
alami rotan ini dapat dijumpai di semenanjung Malaya, Sumatera, dan dataran rendah
pada 300 m dpl. Tanaman ini tumbuh merambat dan membutuhkan tanaman kayu kayuan
sebagai media tegakannya. Batang tanaman ini membentuk rumpun, diameter 12 mm, panjang
ruas 18 – 35 cm, warna coklat kekuningan dan mengkilat, hati berwarna putih. Sedangkan
daunnya adalah daun majemuk menyirip, anak daun berbentuk lanset seperti pita, bagian
atas anak daun dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadapan-hadapan.
Bunganya mempunyai malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang
yang berduri. Buahnya berbentuk bulat, coklat merah, dan berbiji tunggal.
BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi Jernang
Klasifikasi rotan jernang
Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi :
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :
Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Arecidae
Ordo :
Arecaceae
Famili :
Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus :
Daemonorops
Spesies : Daemonorops spp.
2.2 Pembibitan Jernang
a. Perkecambahan
Buah
yang digunakan sebagai benih adalah buah yang masak. Buah tersebut dikupas
untuk membuang kulit dan daging buah serta dicuci. Biji yang digunakan sebagai
benih adalah biji yang benar-benar masak dan sehat. Biji yang baik dicirikan
dengan warna coklat tua dan mengkilap serta tidak ada serangan
hama/penyakit. Biji rotan jernang yang
ditutupi cangkang yang keras sehingga sulit ditembus air. Untuk membantu proses
perkecambahan mata biji dicongkel dan direndam dalam cairan atonik selama 2
hari. Kemudian biji diletakkan dalam wadah yang kedap yang telah diisi serbuk
gergaji yang terdekomposisi dan steril. Benih mulai berkecambah pada hari ke-12
dengan daya kecambah 48,5%.
b. Penyapihan
Penyapihan
dilakukan ± 2,5 bulan setelah benih berkecambah, ditandai dengan tumbuhnya
tunas (panjang ± 5 cm) dan akar (minimal 3 helai akar). Penyapihan dilakukan
pada polybag kecil yang berisi media cocopeat/serbuk gergaji yang telah
terdekomposisi. Serbuk gergaji merupakan
bahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan semai karena
dapat menyokong pertumbuhan akar dan mengandung unsur-unsur hara yang
diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
c. Pembibitan
Daun
rotan mulai mengembang setelah 1 bulan disapih dengan warna awal daun coklat kekuningan,
kemudian berubah menjadi hijau setelah 1-2 minggu. Selanjutnya bibit dari
polybag kecil dipindahkan ke polybag besar untuk memberikan pertumbuhan yang
baik pada bibit. Banyak jenis media yang dapat digunakan untuk mendukung
pertumbuhan bibit sampai siap tanam. Dengan pertimbangan keterbatasan tanah
/top soil dan kemudahan dalam pengangkutan maka media dapat menggunakan limbah
organik seperti serbuk gergaji/cocopeat
2.3
Pengolahan Resin Jernang
Untuk mendapatkan resin
jernang dilakukan ekstraksi buah rotan jernang.
Teknik ekstraksi buah rotan jernang
menurut Januminro (2000) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
ekstraksi/pengolahan basah dan kering.
Ekstraksi basah menggunakan media air sedangkan ekstraksi kering tanpa
menggunakan air. Ekstraksi ini biasanya dilakukan
oleh masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Pada mulanya jernang digunakan
untuk keperluan mereka sendiri, tetapi akhir-akhir ini banyak diperjualbelikan
di pasaran dengan harga cukup mahal yaitu Rp. 700.000,- sampai Rp.
1.000.000,-/kg.
Tahapan-tahapan
ekstraksi sebagai berikut :
a. Buah
rotan jernang dilepas dari tandan .
b. Buah
rotan jernang dimasukkan ke dalam keranjang rotan yang dinamakan “ambung”.
c. Buah
rotan jernang di dalam ambung ditumbuk secara perlahan-lahan.
d. Jernang
keluar melalui celah-celah ambung dan tertampung di plastik.
Teknik ekstraksi
dilakukan dengan menumbuk buah
rotan dengan hati-hati
guna
menghindari kulit buah terkelupas dan buah rotan pecah/hancur. Teknik ekstraksi
ini tergolong ekstraksi kering karena tanpa menggunakan media air atau pelarut.
Jernang yang dihasilkan dengan cara ini sedikit tercampur dengan sisik kulit
buah rotan. Serbuk jernang hasil ekstraksi dimasukkan dalam wadah plastik dan
dalam waktu ±30 menit akan menggumpal/mengeras.
Untuk mempercepat penggumpalan, serbuk jernang dalam plastik biasanya
dikukus selama ±5 menit.
2.4
Manfaat Resin Jernang
Jernang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna (untuk vernis,
keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat), bahan
obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma,
sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta pembeku darah
karena luka. Selama ini jernang diekspor untuk industi-industri di negara
China, Singapura, dan Hongkong. China membutuhkan 400 ton jernang tiap tahunnya
dan Indonesia baru mampu memasok sekitar 27 ton pertahun (Pasaribu, 2005).
Pemanfaatan jernang
secara tradisional antara lain untuk obat disentri dan obat luka (Rustiami,
2005; Purwanto, Polosokan, Susiarti, & Wahyu, 2005). Khasiat jernang
sebagai obat luka dimungkinkan karena ekstrak etil asetat jernang memiliki
sifat prokoagulasi darah secara in vitro terhadap kelinci
(Waluyo & Pasaribu, 2013). Ekstrak suatu bahan sebagai obat penyembuh luka
akan lebih efektif pemanfaatannya bila bahan tersebut juga mempunyai sifat antimikroba
(antijamur dan antibakteri), sehingga dalam
penerapannya tidak diperlukan lagi bahan tambahan antimikroba
(Umachigi et al., 2007; Kwakye, Kwapong, & Adu, 2009).
penerapannya tidak diperlukan lagi bahan tambahan antimikroba
(Umachigi et al., 2007; Kwakye, Kwapong, & Adu, 2009).
Salah
satu teknologi nano yang berkembang saat ini adalah penggunaan serat nano
(nano-fibers) untuk berbagai produk. Serat nano mempunyai sifat unik dan
berpotensi untuk diaplikasikan di bidang biologi, kimia, elektronik, teknik,
biomedis, dan pelindung berbagai produk. Salah satu aplikasi serat nano dalam
bidang medis adalah untuk meningkatkan efisiensi pemakaian obat. Salah satu
aplikasi serat nano dalam bidang biomedis adalah untuk menyembuhkan luka dengan
memasukkan bahan antibiotik pada matriks serat nano
(Soscia, Raof, Xie, Cady, & Gadre, 2010). Peran antibiotik pada serat nano untuk menyembuhkan luka dapat digantikan dengan bahan antimikroba seperti jernang.
Saat ini, penggunaan jernang dengan matriks serat nano belum dipelajari secara mendalam. Ekstrak etil asetat dan metanol jernang rambai dan kalamuai resisten terhadap Candida albicans dan Aspergilus flavus. Ekstrak etil asetat jernang rambai dan kalamuai berpotensi sebagai obat penyembuh luka (wound healing).
(Soscia, Raof, Xie, Cady, & Gadre, 2010). Peran antibiotik pada serat nano untuk menyembuhkan luka dapat digantikan dengan bahan antimikroba seperti jernang.
Saat ini, penggunaan jernang dengan matriks serat nano belum dipelajari secara mendalam. Ekstrak etil asetat dan metanol jernang rambai dan kalamuai resisten terhadap Candida albicans dan Aspergilus flavus. Ekstrak etil asetat jernang rambai dan kalamuai berpotensi sebagai obat penyembuh luka (wound healing).
BAB II
KESIMPULAN
1. Rotan
jernang merupakan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai manfaat
sosial, ekonomi dan lingkungan cukup tinggi. Jernang adalah resin yang menempel
dan menutupi bagian luar buah rotan jernang (Daemonorops sp.).
2. Pembibitan
jernang dimulai dengan dengan berkecambahnya benih jernang, kemudian dilakukan
penyapihan terhadap benih jernang yang sudah bertunas, terus dilakukan
pembibitan jernang dengan memindahkan dari poly bag kecil ke poly bag besar
supaya bertumbuh dengan baik
3. Pengolahan
jernang dilakukan dengan teknik ekstraksi. Ekstrasi buah rotan jernang dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu ekstraksi/pengolahan basah dan
kering. Ekstraksi basah
menggunakan media air sedangkan ekstraksi kering tanpa menggunakan air.
4. Jernang
dimanfaatkan sebagai bahan pewarna (untuk vernis, keramik, marmer, alat dari batu,
kayu, rotan, bambu, kertas, cat), bahan obat-obatan seperti diare, disentri,
obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan
libido) serta pembeku darah karena luka.
DAFTAR PUSTAKA
Januminro, C.F.M., 2000. Rotan Indonesia: potensi,
budidaya, pemungutan, pengolahan, standar mutu, dan prospek pengusahaan.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Pasaribu, H., 2005. China Butuh 400 ton jernang rotan
dari Indonesia. www.kapanlagi.com. Diakses tanggal 1 Desember 2010.
Permenhut. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No.: P.35/Menhhut-II/2007
tentang Hasil Hutan Bukan Kayu. Jakarta.
Rustiami, H. (2005). Daemonorops
draco (Willd.) Blume. Bogor: Prosea Newsletter No. 35.
Soscia, D.A.; Raof, N.A..; Xie, Y.;
Cady, N.C. & Gadre, A.P. (2010). Antibiotic-Loaded
PLGA Nanofibers for Wound Healing Applications. Advance Biomaterials
12(4),83-88.
Sumadiwangsa, S.
2000. Usulan kerja peneliti
(UKP). Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor.
Tidak diterbitkan.
Umachigi, S.P.; G.S. Kumar; K.N.
Jayaveera; D.V. Kishorekumar; C.K. Ashokkumar & R. Dhanapal. (2007). Antimicrobial, Wound Healing and Antioxidant
Activities of Anthocephalus cadamba. Afr.J.raditional. CAM 4(4),481-487.
Waluyo, T.K. & G. Pasaribu. (2013).
Aktifitas Antioksidan Dan Antikoagulasi Resin. Jurnal Penelitian Hasil Hutan
31(4),306-315.


bisa dimakan kan ya :)
ReplyDeleteBisa kak. Masa kakak lupa yang ku kasih di KHDTK itu
DeleteBagus tu bisa di coba praktekkan
ReplyDeleteTerimakasih
DeleteNice👍
ReplyDeleteDitunggu PKMnya tentang jernang ya ka
ReplyDeleteBukan anak PKM bg
DeleteApakah sudah ada bahan pewarna instan dari jernang?
ReplyDeleteSejauh ini blm ada kak
DeleteSangat bermanfaar
ReplyDeleteTerimaksih
DeleteRotan jernang biasanya ditemukan dimana ya kak??
ReplyDeleteJadi penyebaran jernang itu ada dijawa dan sumatera kak
DeleteSangat bermamfaat��
ReplyDeleteterimakasih
DeleteWahh infonya bagus sekali min
ReplyDeleteSangat membantu terimakasih
ReplyDeletemakasih
DeleteMantap kali yus
ReplyDeleteInfo yg bagus, ditunggu manfaat jenis hhbk lainnya
ReplyDeleteoke terimakasih
DeleteMantap bisa jadi inovasi baru
ReplyDeleteterimakasih
DeleteMantap author
ReplyDeleteterimakasih
DeleteSalut sama penulis
ReplyDeleteiya dongg
DeleteMantap 👍
ReplyDeleteterimakasih
Delete